Pengaruh Media Tanam terhadap Perkembangan Tumbuhan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.

Jenis media tanam yang digunakan pada setiap daerah tidak selalu sama. Di Asia Tenggara, misalnya, sejak tahun 1940 menggunakan media tanam berupa pecahan batu bata, arang, sabut kelapa, kulit kelapa, atau batang pakis. Bahan-bahan tersebut juga tidak hanya digunakan secara tunggal, tetapi bisa dikombinasikan antara bahan satu dengan lainnya.
Misalnya, pakis dan arang dicampur dengan perbandingan tertentu hingga menjadi media tanam baru.Pakis juga bisa dicampur dengan pecahan batu bata.

Untuk mendapatkan media tanam yang baik dan sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam, seseorang harus memiliki pemahaman mengenai karakteristik media tanam yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya. Berdasarkan jenis bahan penyusunnya, media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik

a. Bahan Organik

Media tanam yang termasuk dalam kategori bahan organik umumnya berasal dari komponen organisme hidup, misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.

Bahan organik akan mengalami proses pelapukan atau dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme. Melalui proses tersebut, akan dihasilkan karbondioksida (CO2), air(H2O), dan mineral. Mineral yang dihasilkan merupakan sumber unsur hara yang dapat diserap tanaman sebagai zat makanan. Namun, proses dekomposisi yang terlalu cepat dapat memicu kemunculan bibit penyakit. Untuk menghindarinya, media tanam harus sering diganti. Oleh karena itu, penambahan unsur hara sebaiknya harus tetap diberikan sebelum bahan media tanam tersebut mengalami dekomposisi.
Beberapa jenis bahan organik yang dapat dijadikan sebagai media tanam di antaranya arang, cacahan pakis, kompos, moss, sabut kelapa, pupuk kandang, dan humus.

b. Bahan Anorganik

Bahan anorganik adalah bahan dengan kandungan unsur mineral tinggi yang berasal dari proses pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan oleh berbagai hal, yaitu pelapukan secara fisik, biologi-mekanik, dan kimiawi.

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, mineral yang berasal dari pelapukan batuan induk dapat digolongkan menjadi 4 bentuk, yaitu kerikil atau batu-batuan (berukuran lebih dari 2 mm), pasir (berukuran 50 /-1- 2 mm), debu (berukuran 2-50u), dan tanah liat (berukuran kurang dari 2ju. Selain itu, bahan anorganik juga bisa berasal dari bahan-bahan sintetis atau kimia yang dibuat di pabrik. Beberapa media anorganik yang sering dijadikan sebagai media tanam yaitu gel, pasir, kerikil, pecahan batu bata, spons, tanah liat, vermikulit, dan perlit.

1.2 Rumusan Masalah

a. Perbedaan laju pertumbuhan kacang hijau

b. Pengaruh media tanam terhadap laju pertumbuhan kacang hijau

1. 3 Tujuan

Tujuan pengamatan ;

a. Mengamati pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

b. Mengamati perbandingan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan pada masing-masing media tanam

1.4. Manfaat Penelitian

a. Mampu memilih media tanam yang sesuai bagi tumbuhan

b. Mengetahui pengaruh media tanam terhadap laju pertumbuhan kacang hijau

c. Mengetahui factor apa saja yang membedakan media tanam

1.5 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan ;

a. Biji-Bijian ( biji kacang hijau)

b. 4 Buah Pot

c. Media Tanam ( tanah, pecahan batubata, pasir, abu)

d. Sprayer

e. Alat Tulis (penggaris, spidol)

1.6  Metode Penelitian

a. Siapkan keempat pot dan berikan label pada pot sesuai dengan media tanam yang akan di isi.

Pot 1 ; Tanah

Pot 2 ; Pasir

Pot 3 ; Pecahan batu-bata

Pot 4 ; Abu

b. Isi masing-masing pot sesuai dengan label pada pot

c. Mulalilah menanam biji kacang hijau pada setiap pot

*Tanamlah 5 biji kacang hijau pada setiap pot

d. Sirami pot-pot tersebut setiap hari (dengan kadar air yang sama) secukupnya.

*Maksimal 2x sehari

*Berikan perlakuan yang sama pada setiap pot

e. Amati perubahan yang terjadi. Ukur tinggi tanaman dari permukaan tanah

f. Catatlah hasilnya pada tabel pengamatan

1.6 Hipotesa

Media tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan tanaman dan pertumbuhan awalnya

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hasil Pengamatan

2.1.1 Tabel Pengamatan

MT

Pot 1

Pot 2

Pot 3

Pot 4

x

b1

b2

b3

b4

b5

Rata-rata

b1

b2

b3

b4

b5

Rata-rata

b1

b2

b3

b4

b5

Rata-rata

b1

b2

b3

b4

b5

Rata-rata

h1

0,6

0,5

0.6

0,5

0.4

0,52

0,4

0,6

0,5

0,4

0,6

0,5

0,4

0,5

0,5

0,5

0,4

0,46

0,3

0,2

0,4

0,5

0,5

0,38

h2

1,5

1

1

1,1

1

1,12

1

1,2

1

1

1

1,04

0,7

0,8

1

0,6

0,7

0,76

0,5

0,5

0,6

0,8

0,7

0,62

h3

7

6

4

5

5

5,4

4

5

4,5

3

4

4,1

3

2,5

4

4,4

3

3,38

1

2

1

2,4

2

1,68

h4

12

11

10,6

11

9,4

10,8

10

11,7

11

10

10,5

10,64

9

7

10

9

6,5

8,3

4

2

3

5

4,2

3,64

h5

15

14

14

14

13

14

13

15

14

13

14

13,8

11

9

12

11

9

10,4

5

4

4,3

7

6

5,26

jmlh

6,368

6,016

4,66

2,316

*Keterangan ;

h          ; Hari

b          ; Biji

x          ; Tinggi Tanaman (cm)

Pot 1    ; Tanah

Pot 2    ; Pasir

Pot 3    ; Pecahan batu-bata

Pot 4    ; Abu

*Pengukuran dilakukan sekali sehari setiap pukul 16.30 WITA

2.1.2  Grafik Pengamatan


2.2  Pembahasan

Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembaban daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.

Pada jenis tumbuhan tertentu seperti kacang hijau juga terdapat beberapa faktor penunjang dan pada laporan kami ini membahas salah satunya yaitu media tanam dan unsur hara yang terkandung didalamnya. Melalui kedua faktor tersebut kita dapat mengetahui skala pertumbuhan dari kacang hijau tersebut hingga menjadi kecambah akibat pengaruh dari kedua faktor tersebut.

Pada hari pertama, perbedaan pertumbuhan biji pada setiap media tanam belum nampak karena kotiledon baru terangkat beberapa centi ke permukaan tanah. Pada pot pertama yang berisi Tanah biasa, tinggi rata-rata kelima biji kacang hijau yang mulai tumbuh yaitu 0,52cm, 0,5 cm  untuk Pot kedua yang berisi Pasir, 0,46 cm untuk Pot ketiga yang berisi pecahan batu-bata dan 0,38 cm untuk Pot terakhir yang berisi Abu.

Pada hari kedua, Hipokotil memanjang sehingga plumula dan kotiledon makin terangkat ke permukaan tanah. Tingginya sudah mulai bisa di ukur tetapi perbedaan pertumbuhan pada setiap media tanam belum bisa di pastikan. Selama hari ke dua, pertumbuhan kacang hijau pada media tanam tanah, pasir, pecahan batu-bata dan abu (sekam padi) masih terlihat sama. Kacang hijau pada Pot 1 memiliki tinggi rata-rata 1,12 cm , pada Pot 2 tinggi rata-ratanya 1,04 cm , 0,76 cm untuk Pot 3 dan 0,62 cm untuk Pot 4.

Pada hari ketiga plumula tumbuh ke atas menjadi batang, kotiledon mulai membelah membentuk daun. Perbedaan tingginya sudah dapat dibandingkan. Tinggi kacang hijau pada pot 1 dan 2 terlihat imbang dengan tinggi rata-rata 5,4 cm untuk Pot 1 dan 4,1 cm untuk Pot 2, diikuti Pot 3 dengan 3,38 cm kemudian 1,68cm untuk pot ke empat.

Di hari keempat, kacang hijaunya  bertambah tinggi, daunnya semakin melebar. Di Pot 1, tinggi tanaman berkisar 12cm, 11 cm, 10,6cm, 11 cm dan 9,4cm dengan tinggi rata-rata 10,8 cm. Di Pot 2, tinggi tanaman berkisar 10cm, 11,7 cm, 11cm, 10 cm dan 10,5cm dengan tinggi rata-rata 10,64 cm

Di hari kelima perbedaan tinggi kacang hijau tampak jelas. Tinggi rata-rata kacang hijau pada pot 2 dengan 13,8cm hampir menyamai tinggi kacang hijau pada pot 1 yaitu 14 cm.  Rata-rata pertumbuhan kacang hijau di pot 3 pada hari kelima sebesar 4,66 cm. Sementara pertumbuhan kacang hijau pada pot 4 berkisar 5,26 cm tertinggal jauh dari media tanam lainnya.

Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat kita lihat bahwa laju pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau tercepat yaitu pada media tanam tanah, diikuti pasir kemudian batu-bata dan skala laju pertumbuhan dan perkembangan terkecil pada media tanam abu dengan rata-rata ; 6,368 untuk tanah,6,016 untuk pasir, 4,66 untuk pecahan batu-bata dan 2,316 untuk abu.

Dibandingkan dengan pasir, pecahan batu-bata dan abu, tanah merupakan media tanam yang paling banyak mengandung unsur hara mineral yang diperlukan kacang hijau. Beberapa Unsur Hara Mineral dalam tanah antara lain ; Kwarsa (SiO2), Ca, Mg, K,Na, Fe,P. Selain itu dalam tanah terdapat bahan organik (Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lainnya) air serta udara.

Agar dapat terus tumbuh dan berkembang kacang hijau seperti tumbuhan pada umumnya melakukan aktivitas –aktivitas hidup dengan menyerap unsur-unsur hara, mineral dan air dari dalam tanah. Melalui penyerapan unsur hara, air, dan mineral, kacang hijau dapat memperoleh berbagai zat yang diperlukan dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya. Karena tanah kaya akan unsur hara maka kacang hiaju dapattumbuh dengan baik.

Sedangkan pasir  sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Media tanam pasir sebenarnya kurang baik karena mempunyai porositas yang besar dan tidak dapat menyerap air tetapi hanya dapat meneruskan air. Pasir juga menyerap sangat sedikit air dan nutrisi.

Tetapi keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam.

Oleh karena memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air. Media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif.

Kemudian Pecahan batu bata juga dapat dijadikan alternatif sebagai media tanam. Seperti halnya bahan anorganik lainnya, media jenis ini juga berfungsi untuk melekatkan akar. Sebaiknya, ukuran batu-bata yang akan digunakan sebagai media tanam dibuat kecil, semakin kecil ukurannya, kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara akan semakin balk. Selain itu, ukuran yang semakin kecil juga akan membuat sirkulasi udara dan kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik.

Media tanam pecahan batu-bata miskin hara. Oleh karena itu, penggunaan media ini perlu ditambahkan dengan pupuk kandang yang komposisi haranya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.

Walaupun miskin unsur hara, media pecahan batu bata tidak mudah melapuk. Selain itu, pecahan batu bata cocok digunakan sebagai media tanam di dasar pot karena memiliki kemampuan drainase dan aerasi yang baik sehingga biji kacang hijau masih bisa tumbuh baik pada pecahan batu-bata hanya saja tidak bisa melampaui laju pertumbuhan kacang hiaju pada tanah karena perbedaan jumlah unsur hara.

Pertumbuhan kacang hijau pada abu merupakan laju pertumbuhan yang paling lambat dari media tanam lainnya (tanah, pasir dan batu-bata).

Sekam padi (abu) adalah kulit biji padi (Oryza sativa) yang sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.

Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk sehingga  kacang hijau yang sedang tumbuh tidak dapat berpegang dengan kuat pada media tanam ini.

Dari pengamatan ini dapat di buktikan bahwa Kacang hijau sangat memerlukan unsur-unsur hara dan mineral yang mencukupi pada media tumbuh tempatnya berkecambah. Ketersediaan unsur-unsur hara dan mineral – mineral akan mempengaruhi proses perkecambahan kacang hijau dan juga tumbuhan lainnya.

BAB III

PENUTUP

3. 1 Kesimpulan

a. Kondisi dan komposisi Media tanam berpengaruh pada laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman

b. Media terbaik bagi pertumbuhan kacang hijau berturut-turut yaitu tanah, pasir, pecahan batu-bata, Abu.

c. Rata- Rata Laju pertumbuhan kacang hijau : 6,386 cm untuk media tanah, 6,016 cm untuk media pasir, 4,66 cm untuk media batu-bata dan 2,316 cm untuk media abu.

3.2 Saran

a. Saat pengamatan, Gunakan ukuran pot yang sama serta tanamlah biji dengan jumlah yang sama pula.

b. Usahakan melakukan pengukuran dalam waktu yang sama

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://www.kebonkembang.com/panduan-dan-tip-rubrik-35/145.html diakses tanggal 7 Maret 2011.

Hardjowigeno, Sarwono. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta : Akademika Pressindo.

Yufazz. 2010. http://bonsaiyusufclub.blogspot.com/2010/05/media-tanam-bonsai.html diakses tanggal 7 Maret 2011.

About these ads

About byulovers

me....?? a KPopers, ELF yang jadi MVP (?) hahaha, nice to meet you... (*-*)/ Music Playlist at MixPod.com
Gallery | This entry was posted in Be MaFiA, Kuliah and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s